Visa: A Parody about Bureaucracy to Get a Visa (BAHASA News)

Visa: A Parody about Bureaucracy to Get a Visa (BAHASA News)

67
0
SHARE

TEMPO.CO, Jakarta – Bukan rahasia lagi bahwa proses memperoleh visa untuk bepergian ke luar negeri bukanlah hal gampang. Terlebih bila negara yang dituju adalah Amerika Serikat. Peristiwa yang biasa muncul pada saat proses antre meminta visa di Konsulat Amerika Serikat itu diparodikan secara jenaka, namun kontemplatif dalam pentas Teater Visa.

Skenario Teater Visa ditulis oleh Goenawan Mohamad. Teater Satu Bandar Lampung dan peserta kelas akting Salihara berkolaborasi mementaskan naskah ini dalam pertunjukan dua hari di Teater Salihara, Jakarta Selatan, 29-30 Juli 2016, pukul 20.00 WIB. “Naskah ini juga mengangkat paranoia Amerika Serikat setelah tragedi menara kembar,” kata sutradara Iswadi Pratama yang ditemui saat gladi resik, Kamis, 28 Juli 2016.

Beberapa adegan yang ditampilkan dalam pentas antara lain bagaimana orang berimpit-impitan antre untuk mendapatkan visa di konsulat. Kejadian menarik saat antre, seperti kekesalan pada yang menerobos antrean, berkenalan dengan orang di sebelah, atau penolakan dari petugas, turut dimunculkan.

Kita juga menemukan beragam alasan penolakan pemberian visa, seperti nama yang islami, mata sipit, atau pernah berkaitan dengan komunis. Ini terlihat sepele dan mengada-ada, tapi tak jarang memang terjadi. Selain itu, dialog basa-basi antara sesama pemohon saat menunggu memantik diskusi menarik, dari sekadar hendak ke mana di Amerika hingga pertanyaan besar, “Untuk apa sebenarnya kita pergi?”

Aktris Sha Ine Febriyanti yang pernah mengikuti kelas akting Salihara turut tampil dalam pentas ini. Ine berperan sebagai Emile yang kerap mempertanyakan apakah ia harus pergi atau tidak pergi ke Amerika Serikat. Selain itu, Sita Nursanti, Budi Suryadi, Syakieb Sungkar, dan Budi Laksana turut terlibat sebagai aktor.

Visa sebelumnya pernah dipentaskan Teater Lungid (Solo) pada 2009 dan Teater Satu (Bandar Lampung) pada 2012. Iswadi mengatakan, secara garis besar, cerita tidak berubah dari lakon awal. “Namun kami mencoba memperhalus. Kalau dulu semua dibahasakan secara verbal, sekarang lewat simbol,” ucap Iswadi.

LEAVE A REPLY