Teater Satu grabs audience’s and critics’ attention in Japan (BAHASA News)

Teater Satu grabs audience’s and critics’ attention in Japan (BAHASA News)

Originally posted on Provoke Online by Madava Nanda

87
0
SHARE

Asian Theatre Directors Festival kembali digelar nih pada 31 Agustus 2016 di The Rock Theatre, Toga, Jepang. Pada tahun ini, Asian Theatre Directors mengundang beberapa sutradara muda di Asia. Salah satu negara yang terpilih adalah Indonesia.

Di kesempatan kali ini, perwakilkan dari Indonesia, Teater Satu Indonesia memukau penonton dan para kritikus seni pertunjukan dengan tampil membawakan lakon“Kursi-Kursi” karya Eugene Ionesco.

Sekedar informasi aja nih, Asian Theatre Directors Festival merupakan sebuah acara yang mengundang beberapa sutradara muda di Asia untuk menampilkan naskah yang sama. Musim panas ini, sutradara terpilih dari Taiwan, Jepang, Cina, Korea serta Indonesia diharuskan menggarap Kursi Kursi karya Eugene Ionesco.

Lakon “Kursi-Kursi” dari Indonesia disutradarai oleh Iswadi Pratama dan diterjemahan oleh Yudiaryani. Untuk pemerannya sendiri dimainkan oleh 9 aktor, yaitu:  Imas Sobariah, Ahmad Jusmar, Baysa Deni, Vita Oktaviana, Budi Laksana, Yeli Shinta Laras Utami, Gandi Maulana, Desi Susanti. Mereka masing-masing memerankan pasangan lelaki dan perempuan tua  yang terbagi dalam 4 fragmen, serta Rarai Masae memerankan Juru Cerita.

Naskah bergenre absurd ini bercerita tentang sepasang orang tua yang menunggu kedatangan tamu-tamu mereka. Sementara sambil menunggu, keduanya saling bercerita tentang kenangan-kenangan mereka. Lalu satu per satu tamu pun datang. Namun sesungguhnya tamu-tamu itu hanyalah ilusi belaka.  Yakni orang-orang yang mereka bayangkan sebagai teman kecil, primadona, pejabat tinggi, penguasa, Nyonya Besar.

Kepada tamu-tamu ini, keduanya menceritakan banyak hal. Semakin lama, kedua orang tua itu semakin jauh terbawa delusi yang muncul dari luka batin mereka sebagai ‘orang yang dilupakan’ zaman. Tapi keduanya masih terus menunggu kehadiran tamu terakhir, yakni Si Juru Cerita. Seorang yang mereka harapkan dapat menyampaikan kebenaran kepada khalayak  yang hendak mereka ungkapkan kepadanya.  Namun, sebelum Si Juru Cerita hadir, kedua orang tua itu bunuh diri. Lakon ditutup dengan kedatangan Si Juru Cerita yang hanya menemukan kursi-kursi kosong dan ke empat pasang orang tua yang sudah mati.

Walau menggunakan pendekatan yang sama sekali berbeda dari sebelumnya, pertunjukan ini terbukti menghibur para penonton. Salah seorang penonton menyatakan bahwa ia menikmati pertunjukan secara keseluruhan dan secara khusus tertarik melihat beberapa aktor memainkan dua karakter utama. Dalam wawancara pribadi, Yanghee Lee, seorang penari yang tinggal di New York, menceritakan salah satu bagian yang paling berkesan baginya:

“Saya masih ingat satu titik, ada bagian dramatis di mana sang pria dan wanita terjatuh dan di saat itu angin menghantam. Adegan tersebut sangat indah bagi saya dan saya masih ingat bagaimana saya menyerap segalanya, saya merasakan kehadiran dan emosi mereka,” tutur Yanghee.

Disamping khayalak, mayoritas kritikus juga memuji Iswadi karena telah membawakan sesuatu yang unik terhadap karya Ionesco.

“Pertunjukan ‘Kursi-Kursi’ dari Indonesia  memiliki gagasan menarik karena membagi naskah menjadi banyak pasangan berhasil di atas panggung, walaupun bagi saya itu terkesan sedikit terlalu naturalistik. Dan transisi yang menggunakan ingatan seperti mimpi buruk juga menarik, dan menunjukan kesepian dari karakter di atas panggung,” kata  Sbastian, kritikus asal Italia  saat review pertunjukan sehari sesudah penampilan.

Mereka yang berpartisipasi dalam diskusi tersebut juga terkesan dengan penggunaan simbol, setting panggung, serta aspek politik dan historis yang dikemas dalam “Kursi-Kursi” versi Teater Satu.

Asian Theatre Directors Festival secara resmi ditutup oleh penampilan dari Suzuki Company of Toga yang disutradari oleh Tadashi Suzuki pada Sabtu (2/9) waktu Jepang dengan pemberian sertifikat dan hadiah sebesar ¥500,000 kepada seluruh Sutradara.

LEAVE A REPLY