Teater Satu and Kober perform in ISBI Bandung (Bahasa News)

Teater Satu and Kober perform in ISBI Bandung (Bahasa News)

154
0
SHARE

Awal tahun 2017 akan menjadi momen istimewa bagi dua kelompok teater asal Lampung, Teater Satu dan Komunitas Berkat Yakin (Kober) yang akan mempresentasikan salah satu karya terbaiknya di gedung Sunan Ambu, Istitut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, pada hari Senin dan Selasa (9 & 10 Januari 2017).

Teater Satu akan mementaskan lakon berjudul Kursi-kursi karya Eugene Ionesco hasil terjemahan Yudiaryani dengan sutradara Iswadi Pratama. Sementara Kober membawakan lakon Pilgrim Project (1) karya dan sutradara Ari Pahala Hutabarat. Selain gelar karya, pada kesempatan ini juga akan dilangsungkan diskusi dengan menghadirkan Ahmad Yulden Erwin, kritikus sastra asal Lampung yang akan mengulas pertunjukan Pilgrim maupun Kursi-kursi.

Iswadi Pratama, direktur artistik dan sutradara Teater Satu yang kini telah menjadi salah sutradara terbaik Indonesia mengatakan bahwa lakon “Kursi Kursi” karya Eugene Ionesco yang diterjemahkan oleh Profesor Yudiaryani ini dimainkan Teater Satu dengan pendekatan yang berbeda dari apa yang pernah dilakukan oleh sebagian besar seniman teater. Lakon yang dalam naskah aslinya hanya dimainkan oleh 2 orang ini, mendapatkan bentuk baru, terbagi menjadi 5 fragmen. Fragmen 1-4 akan dimainkan masing-masing oleh 2 orang. Sedangkan fragmen 5 akan dimainkan oleh 4 pasang karakter ditambah 1 orang juru cerita. Fragmen-fragmen itu, dihadirkan seperti sebuah puzzle yang meminta peran penonton untuk menyusun dan menatanya kembali.

Lakon yang membincangkan tema mengenai sejarah Prancis (juga Eropa dan umumnya negara Barat) pasca perang dunia ke II, hingga ke masalah yang sangat intim dalam bingkai absurditas ini, dikemas dengan memadukan pola-pola acting naturalisme Stanislavski, ekspresionisme, irama pantomim, tarian, dan komedi fisik, juga musik dan lagu dari berbagai khasanah kebudayaan. Pertunjukan dimainkan dalam bahasa Indonesia dengan memadukannya dengan semacam racauan untuk mempertajam efek absurditas. Dengan cara seperti ini, diharapkan pertunjukan yang kami suguhkan bisa membias ke konteks yang lebih luas. Selamat menyaksikan.

Ketika ditanya tentang pendekatan artistiknya kali ini, Iswadi Pratama berujar “Saya menyikapi teks (naskah kursi-kursi) ini seperti memainkan sebuah puzzle. Di mana setiap peristiwa, gagasan, atau karakter bisa dipindah-pindah ke berbagai arah dan posisi. Dg cara itulah struktur pertunjukan disusun. Distribusi peristiwa, gagasan, dan karakter ini tidak mengikuti cara berpikir logic-linier: Melainkan lebih bersandar pada imajinasi dan fantasi. Sehingga selalu ada lompatan atau ketakterdugaan yang sering tak bisa dijelaskan alasannya-meski ia tetap saling terpaut (terstruktur). Demikian saya membangun situasi Absurd dalam pertunjukan “kursi-kursi”. ia sebuah game, suatu permainan, sebuah cara untuk terus menerus mengelak dari “batas” atau akhir yang tertutup dan defenitif. Sebuah absurditas yang masih memberi tempat bagi harapan (kemungkinan).”
Naskah kursi-kursi sebelumnya telah di pentaskan di acara SCOT SUMMER FESTIVAL TOYAMA JEPANG 28 AGUSTUS S.D 5 SEPTEMBER 2016. Selain di Jepang, lakon Kursi-kursi juga telah dua kali dipentaskan di Taman Budaya Lampung pada bulan Agustus dan Oktober 2016.

Lakon bergenre absurd yang pada banyak kesempatan hanya dimainkan dua orang, kali ini dimainkan oleh 9 aktor: Imas Sobariah, Ahmad Jusmar, Baysa Deni, Vita Oktaviana, Budi Laksana, Yeli Shinta Laras Utami, Gandi Maulana, Desi Susanti. Mereka masing-masing memerankan pasangan lelaki dan perempuan tua yang terbagi dalam 4 fragmen, serta Rarai Masae memerankan Juru Cerita.

Ari Pahala Hutabarat atau yang kerap disapa Ari, sutradara dan sekaligus Ketua Kober Lampung mengatakan pertunjukannya berpijak dari pemikiran Theatron sebagai tempat untuk “melihat”. tempat untuk “menyaksikan” dan menjadi “saksi”, Syahadah. Untuk melihat hal yang tak terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk melihat laku yang lebih dalam, intens, organik sekaligus arketipal, yang muncul bukan sekadar dari pikiran dan emosi personal. Untuk melihat topeng, Persona, dikelupas dari wajah para aktor. Tempat untuk melihat kenyataan yang jadi transparan. Langit yang membuka pintunya bagi bumi. Lokus bagi tangga Jacob.

Selanjutnya Ari memaparkan, bahwanya teks Pilgrim atau teks lain menjadi sarana bagi aktor/pelaku untuk menaiki tangga Jacob, yang terpancang di Theatron, sekaligus di tubuhnya. Sedangkan akting/ laku adalah usaha untuk mendaki tangga tersebut, Mikraj, dan menemukan, bukan yang lain, melainkan Aku-nya, yang primordial sekaligus universal. Pementasan—adalah Laku yang selalu terasa sunyi, tempat di mana para aktor/pelaku terus-menerus berujar pada keangkuhan kognisinya, “aku lah hamba, cermin, yang terpantul selarik, hilang sebukit.”

Sebelum pementasan di ISBI Bandung, lakon Pilgrim sudah tiga kali dipresentasikan. Pementasa pertama di Taman Budaya Lampung pada Festival Oktober DKL (7/10), dan dua kali dipresentasikan di Universitas Lampung, 17 November dan 27 Desember 2016. Didukung 8 pelaku, Pilgrim mencoba mengeksprorasi sejumlah persoalan dan pertanyaan eksistensial, tentang Tuhan, Ibu, kampung, dan sosok yang demikian ditunggu dan dirindukan kehadirannya.

Selain pementasan Pilgrim dan Kursi-kursi, pada kesempatan ini juga akan dilaksanakan diskusi yang mengulas ke duanya. Ahmad Yulden Erwin kritikus sastra dan budayawan asal Lampung akan memaparkan pengamatan atas pementasan Kursi-kursi dan Pilgrim. Erwin sudah mempersiapkan sebuah makalah berjudul “Membaca Pilgrim dan Kursi-kursi dalam perspektif Sejarah Tuhan dan Patafora”.

LEAVE A REPLY