Sebuah Puisi

Sebuah Puisi

104
0
SHARE

By Gandi Maulana

 

I

mungkin sepi hanya selembar sajak di tengah kota

mengharap jauh dari riuh

sebab takut terlihat utuh

 

diantara sesak antrian

dan lembab tanah setelah hujan

kau rindukan sebuah dekapan

semacam tafsir yang serupa pelukan

 

tapi mereka telah rutin

tak ingin mengenalmu dengan intim

dan segala yang serupa wujudmu; menjelma hampa hanya

 

sebagai tinta yang ingin merumuskan cinta

mungkin kau terlalu percuma

mengira ia suci belaka.

 

II

suatu sore di jantung kota

dalam wujudmu yang renta

 

pria itu membawamu pulang

dalam perjalanan yang riang

kau benderang.

 

di kursi beranda

kian lusuh engkau meski mandi cahaya

 

persis di sisi kanan buku hijau itu

aroma lembab meruap dari tubuhmu

neruda menampikmu, dengan soneta juga dosa.

 

gemersik angin di rumpun perdu, daun mengigil di ranting dermayu

dalam dingin kau melayang laju. menjauh dari neruda, hendak luput darinya.

 

lewat musim dan cuaca, kau tinggalkan dekap si tua.

 

III

ketika senja menggores lanskap

ketika hening tersingkap

 

orangtua itu kembali di berandanya

hendak melihat sekedar kata

mungkin kenangannya

 

selembar sajak dari isterinya

yang mereka kubur di tengah kota, di kaki akasia

 

“selembar ingatan yang tak sempat terbaca untuk mengenang yang biasa”

 

ia tersenyum ke luas lanskap, gerimis mendekap”

LEAVE A REPLY